Ayat bacaan: Mazmur 13:3a
"Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?"
Dalam lagunya Titiek Puspa bilang, Jatuh Cinta itu berjuta rasanya.
Berjuta rasa bahagia tentunya yang beliau maksud. Bagaimana kalau putus
cinta? Sepertinya sama, berjuta juga rasanya, tetapi rasa-rasa yang
berlawanan dengan mereka yang jatuh cinta. Rasa perih akibat hati yang
luka dan patah, sedih yang mendalam, rasa kehilangan atau mungkin juga
perasaan tersakiti yang bisa mendatangkan rasa benci maupun dendam.
Apapun itu, patah hati akibat putus cinta tidak akan pernah enak
rasanya. Kalau yang putus karena merasa perbedaan di antara mereka
memang tak bisa dihindari lagi atau terjadinya penghianatan dalam
hubungan saja sakit sekali, apalagi kalau putus itu terjadi karena
faktor-faktor diluar pasangan, sementara sebenarnya mereka masih saling
mencintai. Misalnya tidak mendapat persetujuan orang tua, harus
melanjutkan atau fokus kepada studi terlebih dahulu dan sebagainya.
Faktor penyebab putus cinta tak terhitung banyaknya, tetapi semuanya
jelas menimbulkan rasa sakit.
Tadinya berdua sekarang harus sendiri. Tadinya ada sekarang tiada. Bisa
jadi luka itu terasa terlalu parah sehingga orang yang mengalami menjadi
sulit untuk maju. Beberapa orang yang saya kenal memilih untuk tidak
menikah lagi gara-gara rencana yang mereka bangun dengan orang yang
mereka cintai harus kandas di masa muda mereka. Dan mereka ini bukanlah
orang yang jauh kekerabatannya sehingga saya tahu betul bagaimana
sulitnya mereka lepas dari trauma percintaan mereka. Ada yang tidak
sampai separah itu dampaknya tapi memerlukan waktu lama untuk
menyembuhkan luka. Sebaliknya ada pula yang lebih parah, memutuskan
untuk melakukan tindakan bodoh dengan mengakhiri hidup mereka karena
merasa tidak kuat menanggung derita itu.
Ditinggalkan orang yang kita kasihi rasa sakitnya berjuta rasanya. Bagai
luka menganga, seringkali luka itu akan terus meninggalkan bekas dan
tidak akan bisa sembuh dalam waktu singkat. Dalam saat-saat seperti itu
banyak orang merasa seolah-olah Tuhan tidak peduli terhadap penderitaan
mereka, seolah Tuhan memalingkan mukanya bersembunyi dari kita. Daud
pernah merasakan hal seperti itu saat ia merasa sangat butuh kehadiran
Tuhan menolongnya. "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku
terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?
"Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan
bersedih hati sepanjang hari?" (Mazmur 13:2-3a).
Apakah benar Tuhan memang begitu tega meninggalkan kita ketika kesedihan
tengah mendera? Tentu tidak. Yang sering terjadi adalah konektivitas
kita dengan Tuhan sedang terganggu akibat berbagai perasaan yang
berkecamuk dalam diri kita, sehingga kita tidak lagi peka merasakan
keberadaan Tuhan dan mendengarkan suaraNya. Bisa jadi masih ada dosa
yang merintangi kita sehingga hubungan kita tidak berjalan mulus dengan
Tuhan, atau bisa saja untuk sementara waktu Tuhan ingin melatih
otot-otot rohani kita untuk menjadi lebih kuat terlebih dahulu sampai
kita sadar bahwa kita harus mengandalkan Tuhan di atas segalanya. Atau
alasan-alasan lainnya yang dipandang baik oleh Tuhan. Tapi satu hal yang
pasti, semua itu pasti bertujuan untuk mendatangkan kebaikan, dan itu
haruslah kita sadari agar kita tidak terlena dalam kesedihan
berlarut-larut. Dan satu hal lagi yang harus kita ingat, Roh Tuhan
sebenarnya tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan maupun alasan
apapun. When you search your heart to find Him, He'll always be there.
"Consider and answer me, O Lord my God.." "Pandanglah kiranya, jawablah aku, ya Tuhan, Allahku!"
(ay 4). Daud pun berseru dalam kesedihannya. Betapa doa seperti inipun
sering kita panjatkan dengan lirih ketika kesedihan begitu menyesakkan
dada. Namun bedanya, Daud tidak mau berlama-lama tenggelam dalam
keluhannya. Segera ia mengingatkan jiwanya agar kembali percaya dan
mengandalkan Tuhan. "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu."
(ay 6a). Bahkan lebih dari itu, dia pun menyanyi bagi Tuhan, sebab
meski dalam keadaan sedih sekalipun Daud yakin bahwa Tuhan telah berbuat
baik kepadanya. (ay 6b). Hal seperti inilah yang seharusnya kita
lakukan. Jiwa yang penuh duka lara, hati yang serasa teriris perih tidak
akan mampu berbuat apa-apa jika kita tidak segera diingatkan agar
kembali percaya kepada pertolongan Tuhan, yang pasti akan datang pada
saatnya. Itulah yang dilakukan Daud. Lihatlah sebuah seruannya yang
sudah tidak asing lagi bagi kita. "Mengapa engkau tertekan, hai
jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada
Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" (Mazmur 42:12). Ingatlah bahwa berharap kepada Allah tidak akan pernah berakhir percuma. "Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58b).
Lalu dengarlah satu lagi berita baik ini: Tuhan tahu persis bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan oleh patah hati! "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka."
(Mazmur 147:3). Lihat bagaimana Tuhan berjanji untuk menyembuhkan dan
membalut luka-luka yang timbul akibat putus cinta atau patah hati
langsung dengan tanganNya sendiri. Bukankah janji ini indah? Tuhan siap
untuk merawat kita hingga pulih seperti semula tanpa memandang separah
apapun luka yang sedang kita rasakan.
Ketika kita sedang mengalami kesedihan mendalam, baik ketika kita
ditinggal oleh orang yang sangat kita sayangi atau mungkin baru
mengalami putus cinta dan sebagainya, tidaklah salah untuk mengambil
waktu berduka dan berkabung untuk sementara. Ada kalanya kita perlu
mengambil waktu khusus seperti itu untuk memulihkan diri kita. Namun
janganlah larut dalam kepedihan terlalu lama. Manfaatkan waktu-waktu itu
untuk kembali merenungkan kebaikan Tuhan dan ingatkan jiwa kita untuk
memandang Allah yang notabene tidak berada jauh melainkan ada di dalam
diri kita dan dengan sabar menantikan penguatan daripadaNya. Pakailah
waktu-waktu itu untuk belajar dan melatih banyak hal dari dalam diri
kita. Percaya dan berharaplah terus kepada Tuhan, dan jangan lupa untuk
tetap mengucap syukur. Tuhan akan segera memberi kekuatan kepada kita
untuk kembali melangkah melanjutkan perjalanan hidup kita. Jangan
biarkan kesedihan terus menguasai kita berkepanjangan, jangan sampai
kehilangan pengharapan terlebih janganlah tergoda untuk melakukan
tindakan bodoh yang bisa berakibat fatal. Tetap pegang janji Tuhan,
percayalah sepenuhnya kepadaNya. Tuhan tidak akan menutup mata dari
penderitaan kita, dan pada saatnya Dia akan segera memberi kelegaan dan
kekuatan.
"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka."
(Mazmur 147:3)